#repost – Takbir yang Takabbur

Takbir berasal dari Kata kabura yakburu kubran yang artinya besar. Kabiir sebagai kata sifat, artinya yang besar. Kemudian untuk mendapatkan arti aktif-transitif diubah menjadi kabbara yukabbiru takbiiran, artinya membesarkan atau menyatakan sesuatu sebagai besar atau agung.

Jadi kata takbir, karena transitif, membutuhkan obyek atau sesuatu di luar diri sang pengucap untuk dinyatakan kebesaran dan keagungannya oleh si pengucap. Oleh karenanya, kalimat takbir kita adalah Allahu Akbar, yang artinya Allah Maha lebih besar. Jadi yang dinyatakan sebagai Maha Lebih besar itu adalah Allah Swt, yang memang seperti itu adanya.

Dengan demikian, takbir diucapkan bukan untuk membesarkan atau membesar-besarkan diri sendiri,  karena membesarkan atau menyatakan diri sendiri sebagai yang besar (al-Kabir) itu namanya takabbur. Secara nilai, takabbur merupakan lawan takbir, karena takbir membesarkan pihak lain sedangkan takabbur membesarkan diri sendiri. Oleh karenanya, jika takbir merupakan kalimat thayyibah dan terpuji, takabbur merupakan sifat tercela bahkan bisa membawa seseorang menjadi musyrik.

Di dalam takbir terkandung nilai tasghir (pengecilan) terhadap diri sendiri, karena tidak mungkin seseorang bisa mengagungkan Allah Swt dengan sebenar-benarnya apabila masih merasa besar. Sebaliknya di dalam takabbur, juga terkandung nilai tasghir, tapi kepada  pihak lain, karena tidak mungkin juga seseorang yang mengakui dan menyadari kebesaran Allah swt, bisa bersifat takabbur.

Maka, sangatlah aneh, apabila taut-bertautnya takbir sepanjang malam Idul Fitri di seluruh penjuru dunia tidak diikuti oleh kerendahhatian ummat Islam seluruh dunia untuk bergandeng tangan satu sama lainnya, menyadari kelemahan dan kekurangan dirinya, lalu menghargai kelebihan saudaranya, saling memaafkan atas segala dosa yang telah dilakukan, menyingkirkan kesombongan pribadi, kelompok, golongan, dan sektor yang lain, untuk bersama-sama berkohesi menatap dan merancang masa depan yang lebih cerah, semuanya dalam rangka men-takbir-kan Allah Swt: Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa nahnu shighar bal asghar (Allah maha lebih besar, sedangkan kita kecil, bahkan paling kecil).

Ummat Islam itu ada yang menempati posisi sebagai ulama’, kiai, ustadz, raja, sultan, presiden, perdana menteri, anggota parlemen, hakim, jaksa, tentara, polisi, pedagang, petani, nelayan,  sopir,  makelar,  buruh,  pengangguran, pelajar dalam semua tingkatan,  dan lain sebagainya. Jika semuanya benar-benar bertakbir secara substansial, maka kehadiran mereka di tengah-tengah hiruk pikuk persoalan nasional, regional dan global, akan mampu menjadi rahmatan lil alamiin.

Jika takbir telah dikumandangkan, tapi masing-masing bertahan dengan egosentrisme dan egoisme kelompok, ormas dan parpolnya, juga dengan arogansi kebenaran subjektifnya, maka berarti takbiran kita sekadar formalitas dan menjalankan rutinitas lebaran belaka. Takbir kehilangan spirit tasghir terhadap diri (baik diri personal, apalagi diri kelompok), bahkan yang lebih memprihatinkan, takbir dengan spirit takabbur. Takbir dengan kepalan tangan; aku yang besar, aku yang Jaya, aku yang kuat, aku yang berkuasa,  aku…aku…dan aku…, aku ormasku, aku partaiku, aku kepentinganku,  aku kebenaranku… dst.

Yang demikian itu bukan sekadar takbir yang kosong tanpa makna, tapi justru takbir dengan full makna, makna gertakan, makna politik, makna ekonomi, dan lain-lain. Bukan takbir yang membesarkan hati orang kecil, menghibur hati orang yang bersedih, membuka cakrawala mereka yang sedang dililit hutang dan membuka jalan damai bagi yang sedang berselisih. Justru takbir sebagai penegasan setegas-tegasnya akan kekuatan dirinya. Sungguh, suatu ironi yang mesti kita akhri, agar takbir tetap menjadi kalimat thoyyibah yang Indah kita ucapkan dengan manfaat dunia sampai akhirat.

Bagi seorang muslim, takbir diucapakan setelah menyaksikan bagaimana alam semesta ini diciptakan dengan penuh keteraturan; bumi, bulan, planet dan miliaran bintang berputar mengelilingi matahari dalam sistem tata surya, kemudian tata surya berputar ber-evolusi dan ber-revolusi dalam sistem galaksi bima sakti yang di sana ada miliaran lagi matahari, kemudian bima sakti juga berada dalam sistem yang lebih besar lagi, dan begitu seterusnya, sampai pada tingkat yang tidak bisa dicapai oleh pengetahuan kita.

Sesampai di sini, mestinya kita sudah tersungkur ambruk di hadapan kebesaran-Nya. Allahu akbar. Tapi, kalau saja sampai di situ kita masih belum  juga bisa mengucapkan substansi Allahu akbar, cobalah kembali ke bumi. Bumi yang kita diami hanyalah setitik debu dalam hamparan tak terjangkaunya alam semesta. Bumi yang kita semua rebutan untuk menguasai, mengeksplorasi dan mengeksploitasinya, tidak ada artinya di hadapan Allah Swt. Apa artinya kehilangan setitik debu dari bertriliun-triliun debu?

Kalau juga masih belum, coba kembali kepada diri kita masing-masing. Kita diciptakan dari empat unsur yang ada di alam; tanah, air, udara, dan api. Keempat unsur itu di-”inti”-kan menjadi sperma, lalu dikawinkan dengan ovum, kemudian tumbuh kembali menjadi segumpal darah, segumpal daging, lau ada yang menjadi tulang, membentuk kepala, badan dan kaki, otot, darah, jantung, liver, ginjal, usus, otak, saraf-saraf penghubung, lalu ada ruh rahasia yang mengatur peredaran itu semua,  sama persis dengan keteraturan tata Surya, bima sakti, dan makro kosmos. Dan itu semua berlangsung di tempat rahasia bernama rahim ibunda.

Apabila hal ini masih belum juga menghentak kesadaranmu akan Akbarullah, lihatlah dirimu yang sekarang. Perhatikan kulitmu, lalu masuk ke dagingmu, tulangmu, persedianmu, sumsummu, aliran darahmu, detak jantungmu, otakmu, lalu ke pikiranmu, perasaanmu, imajinasimu, lalu tanyakan siapa yang bekerja? Tanyakan pelan-pelan, siapakah dirimu? Bisa saja kita masih merasa hebat karena dengan akal yng diberikan pencipta, kita manusia bisa mengungkap berbagai rahasia sunnatullah yang ada di tanah, air, udara, dan api atau cahaya, lalu bisa membikin alat transportasi dan alat komunikasi dan informasi yang secanggih sekarang, tapi kita tetap bagian kecil dari bumi, dan apabila buminya saja hanyalah setitik debu, apalagi kita? Kita sangat kecil, asgharusshaghirin. Tapi  Kalau saja dirimu masih merasa besar,  belum menyadari ada yang maha besar yang mencipta, mengasuh, merawat dan mengatur metabolisme dirimu yang material dan non material, maka benar-benar ada yang menutupi dirimu dan itu dalam bahasa Arab namanya kafir. Na’udzu billahi mindazalik.

Secara substansial, takbir itu menjadi senandung matahari, bumi, bulan dan semua berotasi, ber-evolusi serta ber-revolusi secara teratur pada tataran tata surya, galaksi, dan yang diatasnya. Takbir juga merupkan senandung angin yang berhembus, gelombang pasang surut air laut, api yang menyala memasak dan merebus, tanah yang menampung air dan benih lalu menumbuhkannya, pohon yang tumbuh, berbunga dan berbuah, hewan – hewan yang mengandung dan menyusui, kulit yang membungkus daging, daging yang menempel pada tulang, tulang yang tumbuh mengikuti ukurannya, darah yang mengalir, napas yang keluar dan masuk, mata yang melihat, hidung yang membau, mulut yang berbicara, telinga yang mendengar, lidah yang merasa, tangan yang memegang, kaki yang melangkah, jantung yang berdetak, akal yang berpikir, hati yang memahami dan merasakan, juga oleh malaikat Jibril yang menurunkan Wahyu, Mikail yang membagi rezeki, Izroil yang mencabut nyawa, Isrofil yang (bersiap) meniup terompet, Raqib dan ‘Atid yang mencatat amal setiap manusia, munkar dan nakir yang memimpin sidang di alam kubur, Ridlwan yang menjadi akomodasi surga, Malik yang menjadi keamanan neraka, dan bertiliun-triliun lagi isi alam semesta.

Semua makhluk material pasti patuh bertakbir, begitu juga makhluk spiritual seperti malaikat. Sedangkan manusia terdiri dari unsur material dan non material, maka perilaku manusia ada yang bertakbir, tapi ada yang takabbur, bahkan ada yang takabbur dengan bungkus takbir, atau bertakbir dengan spirit takabbur. Manusia diberi kebebasan memilihnya.

26 Juni 2017 / 2 Syawwal 1438H

Advertisements