Great human race

Tiba-tiba saya teringat akan satu perumpamaan terbaik mengenai konsepsi kehidupan yang pernah diajarkan oleh Pak Uci. Bahwa kehidupan manusia ini adalah rangkaian dari pemenuhan hajat manusia yang baru akan terputus ketika seseorang kembali pada pemiliknya. Orang-orang di sekitar lingkungan saya umumnya mengiyakan, bahwa terdapat beberapa hajat yang sepatutnya dipenuhi oleh manusia supaya hidup berbahagia. Apabila dirangkai secara kronologis, hajat ini kemudian menjelma menjadi standar tahapan hidup yang harus dijalani. Seperti lulus sekolah, diterima di perguruan tinggi, lulus dari perguruan tinggi, memperoleh pekerjaan, menikah, membangun rumah, punya anak, punya mobil, dst. Tahapan tersebut mungkin terdengar utopis bagi sebagian orang. Namun sebagian besar lainnya, tentu berkeinginan untuk hidup lebih dari sekedar standar.

Dua kenyataan ini mungkin akan terlihat awkward jika disatukan dalam dialog kehidupan sehari-hari. Setamat SMA, Somad dan Darto dua sahabat karib bertemu di sudut sekolah, membahas masa depan mereka. Somad akan melanjutkan bekerja sekaligus meringankan beban orang tua. Darto yang telah diterima di perguruan tinggi, bercita-cita untuk lulus cumlaude, bekerja di perusahaan asing, dan memperoleh beasiswa ke luar negeri. Di satu sisi Somad cukup mengikuti tahapan hidup yang tidak muluk-muluk. Di sisi lain Darto merasa perlu untuk menambahkan predikat terbaik dalam tiap jenjang kehidupannya. Karena latar belakang yang berbeda, keduanya tidak menghendaki adanya perdebatan dalam dialog ini. Mereka mampu saling mendukung dan mendoakan semoga tahapan hidup yang telah dipilih senantiasa diridhoi oleh Tuhan. Tersisa satu benih kekecewaan dalam relung hati mereka masing-masing, kini tak ada lagi garis finish yang dapat dikejar bersama.

Manusia memang hidup dari keinginan. Perubahan dalam hidup manusia berawal dari keinginan. Evolusi manusia yang berlangsung selama jutaan tahun pun bermula dari sebuah keinginan. Berbeda dengan ras Animalia yang hanya dianugerahi keinginan dalam dimensi biologis – bertahan hidup, manusia juga dianugerahi keinginan dalam dimensi sosial ekonomi – yang mungkin menyebabkan penduduk hutan iri jika melihat kami, sehingga mampu membangun sebuah peradaban di muka bumi

Sungguh manusia telah diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna. Kepada manusia telah dianugerahkan keinginan untuk menentukan arah kehidupannya, juga diiringi dengan kecerdasan untuk mewujudkannya. Sebanyak atau serumit apa pun hajat yang ingin dicapai, manusia akan berusaha mencari cara dan bekerja untuk mewujudkannya. Cukup dengan bekal sederhana berupa akal, manusia telah mampu mengelola bumi, membangun peradaban diatasnya, dan berkuasa atas makhluk lainnya. Manusia hidup hanya untuk memenuhi keinginannya, atau –paling tidak, kelompok dan golongannya. Bumi telah dikembangkan sebagai ladang kekayaannya, dan kecerdasan telah dianugerahkan sebagai sarana pemenuhan keinginannya. Semata-mata untuk manusia.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu, …”

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Rimelda says:

    Itu yang membuat luput

    Like

    1. 21dirham says:

      Maka apakah kita tidak berpikir?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s