Jati diri kerakyatan?

Inilah satu momen yang tidak tahan untuk aku tuliskan sejak lama. Tapi sebelumnya izinkan saya untuk meminta maaf, karena mungkin kerja satu partikel yang ada di bumi kemudian bergeser akibat adanya tulisan ini. Kali ini adalah tentang salah seorang dosen saya, yang ternyata punya hobi terpendam — memotret mahasiswa yang tertidur sewaktu kelas. Dalam kesempatan seratus menit perkuliahannya, ia menyampaikan bentuk kekecewaan mengenai aksi tertanggal 2 Mei kemarin yang baginya, mencoreng nama besar universitas. Beliau bercerita bahwa dahulu, ia tidak jauh berbeda dengan kami, sama-sama mahasiswa yang ‘pro-aksi’, pembela kebenaran, pejuang  atas ketidakadilan, dsb. Satu hal yang membedakan mereka, dengan kami, menurutnya adalah mereka tidak pernah sekalipun durhaka terhadap ‘orang tua‘ mereka sendiri — yang dalam hal ini merujuk pada rektorat beserta jajarannya.

“Saat itu kami berdemo dengan maksud yang jelas untuk melengserkan Soeharto, kami menyampaikan aksi keprihatinan mahasiswa atas kondisi perekonomian saat itu dan mendesak untuk dilaksanakannya Reformasi. Bahkan kami sampai rela untuk mengejar pesawat Akbar Tanjung, mencegahnya kembali ke Jakarta, untuk berdiskusi dengan kami.” Ia bercerita dengan seluruh rasa bangga yang dimilikinya.
“Tetapi apa yang kalian lakukan kemarin, dimana letak urgensinya? Bahkan mengenai bonbin dan tukin pun ikut kalian persoalkan. Orang yang tidak mengerti akan bertanya-tanya apa sih bonbin dan tukin itu, kok sampai sedemikian besarnya dipermasalahkan?” lanjutnya.
Mbok ya kalian ini tidak mudah diprovokasi untuk ikut aksi-aksi yang belum sepenuhnya kalian pahami. Saya rasa mahasiswa sekarang ini sulit untuk membedakan mana isu yang strategis untuk diangkat ke permukaan, dan senang untuk membesar-besarkan suatu permasalahan. Ini semua kan masalah internal yang sedang bersama-sama kami rumuskan solusi terbaiknya.” tutupnya dengan sedikit emosional. Seisi ruangan sepi termangut oleh ucapannya. Saya yang duduk di baris belakang seketika dipenuhi tanda tanya, juga keraguan. Cukup emosional lebih tepatnya, teringat dengan beberapa rekan saya yang turut menjadi penggerak dalam aksi kemarin. Berada dalam satu ruangan untuk mendengarkan ucapan beliau ini nampaknya butuh ekstra ketabahan.

Mungkin saja beliau ini merupakan gumpalan buih dari lautan manusia yang berpikiran sama — bahwa peristiwa 2 Mei kemarin adalah bentuk degradasi akal mahasiswa GM dalam menanggapi suatu isu kritis. Menarik memang, konon aksi yang dilaksanakan di depan Balairung kemarin adalah yang terbesar semenjak 1998, peserta demo diperkirakan mencapai enam ribu orang. Tingginya angka partisipasi pada aksi 2 Mei yang lalu juga turut dipicu oleh drama yang dilakukan pihak rektorat pada malam sebelumnya. Adalah sebuah pencapaian besar bagi para organisatoris demonstrasi dan kawanan pro-aksi karena telah sukses menjalankan salah satu agenda program kerja di tahun kepengurusannya, ada benarnya jika dilihat dari kacamata sempit seperti ini. Namun, perlu dicermati bahwa ketika mahasiswa dalam jumlah ribuan berkumpul, dan menyatukan suara, nampaknya memang ada suatu kesalahan sehingga sistem yang dibangun tidak berjalan dengan baik dan butuh untuk segera diperbaiki.

Mengenai komersialisasi dan mahalnya biaya pendidikan, saya rasa hal tersebut merupakan suatu permasalahan yang sama-sama dihadapi oleh perguruan tinggi di Indonesia. Pendidikan yang murah dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat sekiranya hanya menjadi angan-angan bangsa. Tidak ada yang pernah menjamin bahwa setiap orang berkesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi. Bahkan yang tertera di Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 adalah “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.”. Pasal ini hanya menyebutkan pendidikan secara umum, dan pendidikan itu sendiri memiliki makna yang luas bukan? Memang dilematis, kampus kami yang mengatasnamakan dirinya sendiri sebagai kampus kerakyatan justru berencana untuk menaikkan biaya pendidikannya. Pada satu sisi, pihak universitas memerlukan ‘tambahan pemasukan’ untuk memperbaiki fasilitas seraya meningkatkan kualitas pengajaran. Pada sisi yang lain, keputusan itu berpotensi untuk mencoreng jati diri universitas sebagai kampus kerakyatan. “Kampus kerakyatan, rakyat yang mana?” Begitu bunyi selebaran atau pamflet propaganda yang dapat ditemukan hampir di setiap sudut kampus sebelum aksi dilancarkan. Pada suatu titik di kemudian hari, biaya pendidikan akan meningkat sejalan dengan laju inflasi ekonomi, dan para mahasiswa terpaksa menerima dengan lapang dada. Kecuali mungkin akan ada pahlawan pembela kebenaran lainnya yang datang dengan rencana solutif. Saya rasa memang perlu adanya perbaikan dan strategi yang tepat untuk membenahi masalah pendidikan tinggi di Indonesia, menyadari betapa kompleksnya permasalahan tersebut untuk dipahami.

Saya rasa kita sama-sama mengerti bahwa dunia ini senantiasa membutuhkan perbaikan, keadaan pada zaman sekarang jelas berbeda dengan zaman dahulu. Pada era sebelumnya, mungkin ada hal yang jauh lebih penting untuk diperjuangkan dibandingkan komersialisasi pendidikan pada era kami. Keduanya bagi saya adalah hal yang sama-sama pantas untuk diperjuangkan. Kecil atau besarnya suatu permasalahan tidak bisa dinilai hanya dari ruang lingkup permasalahan. Karena di balik kecilnya suatu masalah ada jutaan keterkaitan, dan ikatan dengan faktor-faktor lain sehingga menjadikannya kompleks.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Safzor says:

    Komersialisasi, dim

    Like

    1. 21dirham says:

      Thanks for the correction saf!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s