Orang Menang dan Orang Kalah

Hingga hari ini, jenis barang yang telah aku hilangkan sudah sepuluh, kalau dihitung dari jumlahnya mungkin sudah belasan—apalagi kalau ditambah dengan penghapus, pensil, dan pulpen, mungkin sudah ratusan. Sebenarnya semua kehilangan ini cukup membuatku stress. Pertama, karena semua barang itu tidak dibeli menggunakan rumput atau daun yang relatif mudah didapatkan. Kedua, kebiasaan ini telah berlangsung sejak kecil dan aku selalu gagal untuk bersikap lebih antisipatif terhadap sesuatu. Orang-orang menyalahkanku atas itu. Di zaman yang serba tidak aman ini logika telah dibalik, maling tidak lagi bersalah, tetapi si ceroboh yang memberikan maling kesempatan untuk mencuri itulah yang salah. Karena niat seseorang mencuri itu muncul ketika ada kesempatan, dan maling itu profesi(onal).

Kukira maling-maling zaman sekarang ini memang sangat berani, dan gigih. Masjid yang konon katanya tempat orang-orang khusyuk beribadah dan berdoa pun, justru menjadi ladang emas bagi para maling. Mudah saja bagi maling, misalnya: ketika makmum meninggalkan tas miliknya dibelakang badan, kemudian ia solat, maling akan dengan tak berdosanya mengambil barang si korban tanpa diketahui sang pemilik tas, juga tanpa ada orang yang curiga. Lagi-lagi memang salah si korban, karena tidak menempatkan tasnya di tempat yang mudah diawasi. Namun bagaimana kalau tas sudah diletakkan di depan tempat ia sujud, tetapi si maling justru dengan gagah beraninya mengambil tas tersebut, karena ia tahu korbannya sedang solat dan tidak akan berdaya untuk mencegahnya kabur. Masihkah akan kita salahkan si korban karena tidak membatalkan solatnya lalu mengejar maling tersebut? Tentu dalam kasus seperti ini, perlu adanya partisipasi aktif dari orang-orang sekitar untuk mencegah pencurian, tidak cukup tindakan antisipatif dari satu pihak saja.

Itulah permasalahannya. Sulit untuk menangkap basah maling yang sedang beraksi. apalagi jika kita tidak memiliki bukti-bukti yang kuat. Dua hal mungkin yang dapat dilakukan adalah mempererat ruang sosial antar sesama manusia, atau memperbaiki sistem keamanan secara menyeluruh. Sembari menunggu rancangan sistem keamanan yang optimal itu rampung, hingga dapat diterapkan secara nyata, pernyataan Kiai Sudrun dibawah ini nampaknya cukup menghibur.

“Kalau ada orang mencuri barang saya”, kata Sudrun bercerita, “saya akan cari pencuri itu sampai ketemu, sampai ke liang naga pun akan saya kejar. Kemudian kalau ketemu, saya akan minta dia mengembalikan barang saya yang dicurinya itu. Lantas saya tanyakan kepadanya apakah ia sungguh-sungguh membutuhkan barang itu. Kalau bilang ya, saya akan langsung memberikan barang itu kepadanya.”
“Dengan demikian,” kata Sudrun lebih lanjut, “dia bukan lagi pencuri. Dia tidak berdosa dan saya tidak kehilangan. Kalau kita memberikan sesuatu kepada orang lain yang memerlukannya, Allah akan menggantinya tujuh ratus kali lipat, meskipun dalam bentuk atau wujud yang tidak harus selalu sama persis dengan barang yang kita berikan.” — dikisahkan oleh Cak Nun

Setahuku memang cuma Kiai Sudrun yang kepikiran untuk mengejar maling hingga liang naga—ya namanya juga Sudrun. Tetapi mungkin ada benarnya juga, kenapa harus takut untuk kehilangan, padahal sejatinya kita di dunia ini tidak memiliki apa-apa, dunia ini pun akan kita tinggalkan ketika kita mati nanti. Apa yang kita dapat adalah apa yang kita berikan, kita tidak akan tahu apa yang benar-benar kita miliki dan apa yang tidak benar-benar kita miliki. Ikhlas dalam konteks yang lebih luas. Kehilangan tidak selalu harus barang, mungkin juga kawan atau orang-orang tersayang, dan biarkan keikhlasan kita menjadi pahala di sisi Allah SWT. Lain kali, siap-siap kejar malingnya ya, semoga kita termasuk orang-orang yang menang. Aamiin

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Anonymous says:

    Ketika nanti pertemuan berujung pada sebuah kehilangan dan terbingkai hanya sebagai kenangan, semoga kita tidak menghukum masa lalu sebagai kesalahan yang tak termaafkan. Ingatlah sebagai pelajaran yang mendewasakan dan membuatmu lebih bijaksana menyikapi kehidupan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s