#heran

Entah empat bulan adalah waktu yang sebentar atau cepat, tetapi itu adalah waktu yang sangat cukup bagi Tangerang untuk operasi plastik atau sekedar suntik kolagen. Dalam perjalanan pulang, aku sadar bahwa tempat ini memang berubah, meskipun hanya berupa translasi sebutir kerikil.

Wajah perumahanku—Maharta, kini telah kehilangan identitasnya (padahal emang dari dulu nggak punya). Pohon rimbun, besar, nan adem di gerbang perumahan sudah tiada, bahkan sekedar semak-semak atau rumput pun tak ada, yang bertambah justru beton, cor-coran, dan aspal—HMMM sud kuduga. Tetapi yang lebih fantastisnya lagi adalah, di Maharta sekarang sedang dibangun gorong-gorong supaya aliran air lebih lancar dan tidak menimbulkan banjir! (katanya). Tapi, terlepas dari segala bentuk permainan politik dan kaitannya dengan pemilihan umum tempo hari, mari jawab dengan hati nurani kita masing-masing. Perlukah adanya pembangunan gorong-gorong di sebuah kompleks perumahan, dengan sebagian besar penduduknya berpenghasilan cukup, dengan frekuensi banjir yang mungkin hanya setahun sekali di pinggir sungai, dengan segala fasilitas yang telah kita miliki? Padahal masih ada ribuan kilometer persegi diluar sana, kawasan yang setiap disiram hujan sedikit langsung banjir, dan lebih layak mendapatkan perbaikan saluran air.

Memang susah untuk menjabarkan masalah ini tanpa menceritakan keterkaitannya dengan geopolitik setempat. Tapi anggaplah isu itu sudah menjadi rahasia umum. Aku tidak akan mempertanyakan para pejabat mengenai  letak rasa malu dan sisi kemanusiaan mereka, karena kebanyakan dari mereka memang tidak mengetahui jawabannya. Tetapi pak, ketika ternyata tindak korupsi para pejabat negara itu justru didukung dan dirayakan oleh suatu kelompok masyarakat, apa yang bisa aku lakukan? Kembali lagi, aku hanyak seonggok gumpalan darah yang tak bernilai, toh ketika aku memilih untuk tidak memilih pada pemilihan umum kemarin, orang ini tetap menang. Lalu kemana lagi aku harus mencari sisi kemanusiaan yang hilang, jika  di dalam sekumpulan rakyat saja tidak kutemukan.

Misalnya pembangunan gorong-gorong Maharta nanti telah selesai, kira-kira apa manfaat langsung yang bisa kita terima? Kalau memang air adalah salah satu masalah yang krusial untuk dibahas, ajaklah warga untuk berdiskusi atau musyawarah. Bukan dengan **** politik macam ini.

 

 

Advertisements