nacht.

Rasanya ada yang tidak wajar dalam proses bagaimana sebuah gambar, suara, momen, ingatan, atau suasana terekam dalam pikiran saya. Entahlah, kadang rasanya semua di dunia ini fana, tetapi begitu nyata. Fana namun nyata, palsu tetapi asli, ada tapi tiada. Membingungkan

Sekarang aku teringat lagi dengan suasana malam itu, lansekap kehidupan malam Jakarta dari ujung selasar Masjid As-Sakiinah. Nampak menara Pakubuwono Signature – yang baru saja selesai dibangun – menjulang tinggi diantara bangunan lainnya, menampakkan kotak-kotak kecil yang bersinar menghiasi tubuhnya, juga memancarkan spektrum putih keemasan pada ujung tower-nya yang disusun meruncing seperti tumpeng macam Empire State di New York. Beberapa detik aku pandangi, lalu aku tutup mata, aku pandangi lagi, kututup mataku kembali. Rasanya aku pernah melihat pemandangan macam ini sebelumnya, entah kapan, mungkin sebelum aku lahir.

Aku beranjak pergi, menghidupkan mesin motor lalu berjalan menuju Delman Utama. Melewati barisan rumah-rumah besar – simbol kemegahan, kekuasaan, dan ketidakpedulian. Angin bergerak cukup kencang, dingin, juga kasar. Pohon-pohon yang besarnya seukuran truk terbalik pun dibuat bergelombang olehnya. Beberapa daun kemudian terlepas dari tangkainya, terombang-ambing dalam pusaran angin malam dan angin kendaraan, lalu mendarat di permukaan aspal. Suasana jalan masih terlihat sibuk, aku harus menunggu sampai kendaraan-kendaraan itu pergi untuk bisa menerobos jalan satu arah. Di ujung jalan nampak pintu perlintasan kereta api mulai menghalangi para pengendara untuk menyebrang. Sirine kemudian berbunyi, lama, kereta yang ditunggu-tunggu tak kunjung melintas.

Angin mendadak berhembus brutal, menggugurkan ratusan koloni daun yang menguning. Ingin rasanya kugenggam daun-daun yang bertebaran di jalan, untuk membuktikan wujud asli mereka. Lalu kuambil satu daun terdekat, aku genggam dalam kepalan tangan, kemudian dia menghilang – bukan karena tiupan angin. Benar ternyata dugaanku, daun-daun disini palsu. Sesaat kulihat sekeliling, pohon-pohon tua, deretan pengendara motor, rel kereta api, lampu jalan, dengung mesin, sirine, dan orang-orang. Semua seperti mengelabui wujudnya masing-masing. Para makhluk tak bernyawa ini berpura-pura hidup, atau bertahan hidup? Paradoksal lagi antara ada dan tiada.

Bunyi klakson riuh gemuruh, tanda ingin segera menyebrangi rel kereta api, benar memang pintu sudah terbuka. Tapi aku tak melihat kereta melintas. Mungkin kereta ini tidak mengelabui wujudnya sendiri, dia melintas dengan wujud yang tak nampak – mungkin saja. Aku dan para geromboloan pengendara motor kemudian berebutan melintasi rel kereta, dan tidak terjadi peristiwa apa-apa. Nampaknya kereta memang sudah lewat.


Di seberang jalan, aroma bebek goreng madura sudah menyambut dengan hangat, tapi aku tidak tertarik, aku buru-buru. Lelah aku. Setiap malam selalu saja seperti ini, atau memang malam bersifat seperti ini? Aneh

Advertisements